Search

LIBURAN INDIES SIDE A BERSAMA THE TREES AND THE WILD

by 9:31 PM 0 comments

Jarak 162 kilometer bukan lagi menjadi alasan yang substansial demi menyaksikan sebuah pertunjukan bid’ah kelas wahid di penghujung tahun ini, Apalagi sekarang sudah ada Tol Cipali yang menyambungkan Cirebon dan Bandung yang cukup ditempuh 3 jam-an saja. Woro – woro yang tidak santer layaknya promo acara kelas rokok dan acara – acara besutan Badan Event Mahasiswa (BEM) hampir saja tidak terdeteksi oleh jari jempol saya, untung ada teman yang ngasih tahu kalau di awal desember grup musik asal Bekasi, The Trees And The Wild  (TTATW) bakal menggelar konser tournya ke Bandung dalam tajuk I’ll believe in anything. Acara yang digagas oleh SRM dan dibantu oleh label kenamaan bandung FFWD Records,  loubelle shop dan IFI Bandung ini berhasil saya dokumentasikan dalam memori kepala.    
THE TREES AND THE WILD
Gate dibuka pukul 19,00 dan penonton yang sudah berserakan diparkiran IFI merangsak dengan tertib ke dalam, beberapa kerumunan masih asik santai diluar sampai-sampai Satria Ramadhan, sang aktor dari SRM  me-notice mereka untuk segera masuk karena acara akan segera dimulai. Masuk paling akhir, saya pun mengambil shaf paling belakang disamping FOH, ini view paling terbaik.

Ruangan yang banyak menciptakan sejarah musik khususnya di kota Bandung, malam itu tidak terlalu sesak. Sekitar tiga ratusan para pemburu nafsu duniawi nampak riuh dan tak sabar menantikan Remedy Cs tampil di panggung. Tidak terlalu lama, Satu persatu personil TTATW menampakan diri dipanggung dan disambut tepuk tangan para penonton yang hadir. Tanpa introduksi dan pidato basa-basi, Remedy Waloni memberi komando dengan petikan gitarnya memainkan nomor pertama, Tuah Sebak. Mata dan telinga saya diaduk-aduk tidak karuan dalam nuansa psikadelik yang utopis, ini lebih – lebih dari minum anggur merah gold. Oh ya, saya sengaja tidak ngebir terlebih dahulu sebelum nonton konser mereka dengan dalih saya tidak ingin dipengaruhi oleh apapun demi mendapatkan orgasme yang tidak dibuat-buat.

Di garda depan, Charita Utami seperti biasa selalu memukau dan memancing kaum lelaki kurang kasih sayang untuk melontarkan kata – kata seperti sayang dan bebeb disela permainan panggung mereka. jokes ala sunda pun dilontarkan beberapa kali oleh penonton yang mencairkan ketegangan utopis saya. Tanpa jeda, mereka terus menggerus tanpa ampun memainkan nomor – nomor seperti zaman zaman, nyiur, saija, kata, derau dan kesalahan dan tentu saja koor massal pada lagu empati tamako.  Dua kali penonton meminta encore dan diladeni dengan baik oleh mereka.

Visual arranger nampaknya tidak mau kalah, mereka menyusun tata cahaya panggung yang bikin mabuk mata, strobe light sangat intens dan tidak mau kalah oleh dentuman drum yang dimainkan Hertri Nur Pamungkas, sayang di beberapa lagu, sound instrument dan vokal nampak tidak balance dan cukup membuyarkan lamunan mengada – ngada saya.

Malam itu nuansa magis berbaur dalam lamunan saya, ini mengingatkan saya ketika setiap menonton puresaturday membawakan Desire. Ada keterikatan batin antara perasaan dan lagu, dan itu terjadi natural tanpa harus mengkonsumsi alkohol ataupun benda lain sebagai pengikat rasa.

Kurang dari dua jam mereka berhasil mencabik – cabik perasaan penonton yang hadir. Setelah kembali pamit penonton lagi-lagi meminta encore, mereka kembali naik ke panggung dan menyelesaikan malam itu dengan lagu Our Roots versi full band walaupun sebenarnya menurut saya lebih cocok dibawakan versi akustik. Panggung kini benar – benar padam dan pintu gedung sudah dibuka menandakan bahwa pertunjukan mereka benar – benar khatam.

Wajah sumringah bercampur shock nampak terlihat dari mimik wajah penonton yang berhamburan keluar. Saya yakin mereka terkejut dengan ramuan musik bid’ah milik TTATW dan penampilan serta tata visual  panggung pada malam itu. Pun, ketika saya berjumpa dengan salah satu teman diluar gedung, dia meluapkan kegembiraannya pada saya “anying edan lah si eta” (anjing…mereka gila).

Saya setuju dengan ulama sekaliber imam Syafi’I yang menempatkan sebuah hukum/ketentuan yang mengada – ada namun masih dalam rujukan dan roots yang fasih itu diperbolehkan, bid’ah itu dinamakan bid’ah hasanah. The Trees and the Wild menyandangnya.

Teks: Irfan Hermawan
Foto: Adit Presma

0 comments:

Post a Comment